Saturday, September 2, 2017

Pencet-pencetan di Kepencet Music Festival


Fourtwnty di Kepencet Music Festival
Kali ini gw akan menceritakan pengalaman nge-gigs di event yang bertajuk Kepencet Music Festival (KMF). Saat pertama tau tentang event ini di media sosial, gw dan istri memang berencana datang karena line-up band-band pengisi acaranya termasuk yang gw dan istri sukai. Acaranya sendiri diadakan pada tanggal 26-27 Agustus 2017 dan bertempat di Gudang Sarinah Ekosistem di daerah Pancoran. Nah salah satu hal yang bikin kami pengen datang juga karena kami belum pernah nge-gigs di Gudang Sarinah. Walau kami tau di tempat itu sering ngadain gigs-gigs keren tapi ya kami belum sempat aja sebelum-sebelumnya datang ke tempat itu.

Singkat cerita, kami akhirnya datang pada hari kedua. Karena hari pertama gw pengen menyaksikan Semifinal Sea Games antara Timnas Indonesia vs Malaysia. Ya walaupun akhirnya Indonesia kalah 1-0 dan tidak berhasil ke Final, dan hal tersebut membuat perasaan gw campur aduk antara marah atau sedih. Okelah cerita tentang Timnas mungkin akan gw ceritakan lain kali aja mungkin ya, he..

e-flyer Kepencet Music Festival

Hari pertama KMF sebenarnya diisi juga dengan band-band yang termasuk favorit gw. Ada Rumahsakit, The SIGIT dan Barasuara. Temen gw di Naiffunclub (NFC), Idrus, datang pada waktu itu. Di grup WhatsApp NFC dia live report situasi di hari pertama tersebut. Sebagai salah satu member komunitas Vespa, Idrus dapat fasilitas gratis masuk ke KMF untuk 2 hari perhelatan acara tersebut. Dari Idrus pula gw mengetahui bahwa bagi pemilik akun Sakuku BCA bisa mendapatkan diskon 50% dari harga tiket yang dijual on the spot yang tadinya seharga 100 ribu Rupiah / orang menjadi 50 ribu Rupiah / orang. Cukup menarik, pikir gw. Karena sebelumnya gw belum punya akun Sakuku BCA, gw pun mencari-cari tau gimana caranya gw bisa punya. Cukup simple sih sebenernya. Tinggal download aja Sakuku BCA di PlayStore. Lalu register pake nomor hp kita yang sering kita gunakan. Lalu isi saldonya di ATM. Tapi pas gw coba top-up saldo Sakuku gw via ATM, gw gak menemukan opsi transfer ke Sakuku. Belakangan pas gw tanya ke CS BCA ternyata harus di ATM yang khusus untuk non-tunai. Dari Idrus pula akhirnya gw tau kalo top-up saldo Sakuku gw bisa melalui mbak-mbak BCA di venue. Okelah kalau begitu pikir gw...gw ngisi saldonya pas di venue aja.

Akhirnya di hari kedua KMF, sesampainya kami di Gudang Sarinah, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari mbak-mbak BCA yang Idrus ceritakan agar gw bisa langsung top-up saldo Sakuku gw. Setelah gw ketemu dan gw kasih duit 100 ribu, pas mau di top-up sempet ada trouble tuh. Ntah gimana belum bisa masuk saldo gw. Akhirnya mbak tersebut pergi dulu sebentar ntah kemana mungkin ke booth BCA lainnya. Gak berapa lama kemudian dia kembali lagi dan gw disuruh cek akun Sakuku gw. Benar pulsa gw pun masuk 100 ribu. Langsung gw ke ticket box dan membeli 2 tiket seharga 100 ribu Rupiah. Jadi di akun Sakuku itu ada menu untuk scan barcode yang kita dapatkan di ticket box. Setelah mendapatkan tiket berupa gelang kertas yang dipakai di pergelangan tangan, akhirnya gw dan istri pun masuk ke dalam venue.

Gw sempat membaca di IG-nya KMF, barang-barang apa saja yang boleh dibawa dan tidak. Makanya gw gak ngebawa tongsis gw karena termasuk barang yang dilarang untuk dibawa. Gw pun membiarkan istri gw membawa kamera Canon mirrorless nya karena di info yang gw baca kamera mirrorless boleh untuk masuk ke venue. Sempat sih pas istri gw lewat di security check, panitianya sempat nanya ke panitia yang lain sambil memperlihatkan kamera istri gw, menanyakan apakah kamera tersebut boleh dibawa masuk. Kata panitia yang ditanya, boleh. Ya memang boleh. Akhirnya istri gw pun masuk sambil membawa serta kameranya. 

Jadi panggung di KMF itu ada 2. Satu outdoor dan satu lagi indoor. Untuk pengisi acara utama ditempatkan di panggung indoor. Kami langsung mencari-cari dan bertanya ke salah satu orang di mana letak panggung indoor. Setelah tau, kami pun langsung menuju ke sana karena menurut rundown, sebentar lagi Fourtwnty akan tampil. Benar, tak berapa lama setelah kami masuk ke area indoor. Fourtwnty pun tampil. Sempat berasa aneh juga sih karena acara ini gak pake MC. Tau-tau band pengisi acara muncul aja di panggung. Tapi ya, pikir gw, daripada pake MC tapi MC-nya garing, mendingan gak usah pake MC. Coba MC-nya temen-temen gw di NFC, yaitu si Gilang Gombloh dan Adjis doaibu, atau MC-MC lain yang kurang lebih setipe kayak mereka, mungkin acara ini lebih greget ya.

Gw dan istri saat menunggu Fourtwnty tampil

Oh iya ada kejadian yang gak jelas pas kami lagi nungguin Fourtwnty naik panggung. Jadi gw dan istri udah ambil posisi pas di depan panggung, di depan pagar barikade. Kanan dan kiri kamipun sudah banyak penonton. Begitu juga di belakang kami. Suasana santai-santai aja saat itu. Penonton saling mengobrol sambil menunggu Fourtwnty. Gw pun ngobrol santai dengan istri gw. Eh tiba-tiba ada security yang menepuk gw meminta agar gw menjauhi pagar barikade, agak mundur sedikit ke belakang. Gak hanya gw dan istri aja tapi penonton lain yang posisinya pas di belakang pagar barikade disuruh mundur ke belakang sekitar satu langkah. Gw kurang jelas security itu ngomong apa karena backsound di dalam venue cukup kencang. Gw pikir dia bilang kami gak boleh deket-deket pagar barikade karena takut pagarnya roboh. Sontak gw bilang, "ah nggak kok ini pagernya kuat kok", kata gw sambil mendorong-dorong pagar barikade yang memang kokoh. Lalu dia ngomong ntah apalagi yang gw kurang jelas, sempat gw tangkap bahwa posisi di depan barikade dikasih space untuk fotografer acara dan media. Pikir gw, mana ada fotografer dan media ambil tempat di area penonton. Yang ada tuh mereka di dalam barikade, di depan panggung. Sambil mikir keheranan gw pun kasih jalan ke security itu sambil ngeliat dia jalan ke arah kanan gw ngambil space penonton lainnya agar mundur selangkah menjauhi pagar. Terdengar para penonton di samping dan belakang gw bergumam tentang kelakuan security itu. Gak berapa lama kemudian gw tarik tangan istri gw agar kami kembali mendekati pagar. Penonton di samping-samping kamipun juga melakukan hal yang sama. Mungkin pikiran kami semua saat itu sama, maksud dari Security itu nyuruh kami mundur tadi apa ya...hihihi...

Yasudlah...lupakan saja.. Karena sekarang saatnya Fourtwnty naik panggung. Gw suka dengan konsep panggung mereka. Selalu menaruh 3 buah gelas jadul di atas sebuah meja kecil, dan menaruh satu gitar yang konon milik salah satu personil mereka yang tidak pernah mau untuk tampil manggung, jadi hanya di belakang layar saja. Sebuah filosofi yang unik. Memulai dengan lagu Diam-diam Kubawa 1, diikuti dengan lagu-lagu lainnya seperti Aku Bukan Binatang, Argumentasi Dimensi, Aku Tenang, Zona Nyaman, Hitam Putih, dan ditutup dengan Fana Merah Jambu, membuat penonton pun bernyanyi bersama. Situasi yang sama pada setiap kali gw melihat aksi panggung Fourtwnty. Semua pun senang. Di akhir show, gitaris Fourtwnty yaitu Nuwi melemparkan picknya ke arah penonton. Tidak terlalu jauh, sempat diperebutkan oleh penonton di sekitar kami. Hingga akhirnya pick itu jatuh ke lantai dan istri gw melihatnya. Karena gak ada penonton lain yang ngeh, istri gw pun mengambil pick itu dan memberikannya ke gw. Hehe lumayan..  

Setelah Fourtwnty, acara break dulu sekitar 30 menit untuk break Maghrib. Banyak penonton yang keluar dulu namun gw dan istri memilih tetap di dalam karena takut nanti kehilangan posisi di depan panggung, sebab setelah break Maghrib yang akan tampil adalah salah satu band favorit kami lainnya yaitu Stars and Rabbit. Sempat sih gw keluar untuk membelikan istri gw minuman karena dia kehausan, tapi setelah gw keluar dan gak dapet minuman yang dicari gw pun masuk lagi ke dalam venue indoor untuk ngasih tau istri gw. Pas mau masuk lagi ke dalam itu, gw kan maen masuk aja. karena gw pikir gw gak diperiksa lagi. Eh gw sempet dipanggil gitu sama security. Dia nanya gw udah diperiksa belum. Gw bilang aja kalo tadi gw udah masuk dari dalam gw keluar dulu, Trus gw bilang kalo mau periksa yaudah periksa aja, sambil gw buka tas gw. Dia nanya gw bawa rokok gak. Gw bilang kagak, gw gak ngerokok. Akhirnya gw pun dibolehkan masuk ke dalam. 
Sampe dalam gw bilang istri gw. Tapi karena istri gw masih kehausan, akhirnya gw pun keluar lagi nyari minuman apa aja yang deket-deket venue indoor. Dapetlah es teh manis di salah satu booth. Gw pun masuk lagi ke dalam area indoor, tapi gw gak diperiksa lagi tuh. 

Akhirnya kami pun menunggu Stars and Rabbit naik panggung. Area Indoor masih belum terlalu ramai karena sebagian penonton masih pada makan dan minum di luar. Tau-tau gitaris Stars and Rabbit, Adi Widodo, muncul di atas panggung. Diikuti dengan lengkingan khas Elda, menandakan sesaat lagi aksi panggung Stars and Rabbit akan dimulai. Dua lagu pertama, area indoor masih belum terlalu ramai. Masuk ke lagu ketiga, baru deh penonton yang dari luar mulai masuk dan memenuhi venue. Tampil membawakan lagu-lagu hits mereka seperti Worth It, Catch Me, The House dan Man Upon The Hill, Stars and Rabbit seperti biasa memukau kami para penonton yang terkesima melihat aksi mereka. Terbukti dari applause para penonton saat mereka mengakhiri setlist malam itu.

Stars and Rabbit
Setelah itu, gw dan istri keluar sebentar untuk mengisi perut. Sempat kami hendak keluar ke arah kantin yang di dekat ticket box, namun saat di pagar security check, kami tidak diperbolehkan keluar, karena menurut mereka, peraturan melarang penonton yang sudah masuk ke dalam venue untuk tidak boleh keluar lagi. Akhirnya kami pun mencari makanan di area outdoor. Setelah berkeliling ke sana ke mari, gw memutuskan untuk makan pecel aja. Kirain harganya standar gitu ya, pas gw tanya harganya berapa, ternyata satu porsi seharga 40 ribu, kalo pake telor 50 ribu. Karena mbak penjualnya udah memegang piring, gw pun gak enak untuk membatalkan jadi ya gw beli aja pecel seharga 50 ribu tersebut. Istri gw gak mau. Setelah gw makan gw pun membeli minuman Hop Hop untuk kami berdua. Lumayan pake Debit BCA dapet diskon 15%. Sepertinya karena BCA merupakan salah satu sponsor acara ini, jadi banyak keuntungan-keuntungan yang didapatkan oleh pengguna Debit dan Sakuku BCA dari mulai membeli tiket hingga membeli makanan dan minuman di booth-booth yang tersedia.

Setelah itu kamipun masuk kembali ke area indoor. Di atas panggung, Rama Satria dan DJ Halim Ardie sedang beraksi. Kolaborasi yang unik, menurut gw. Mengingat Rama Satria yang notabene adalah salah seorang gitaris blues kenamaan negeri ini berkolaborasi dengan seorang DJ. Hentakan musik yang mereka hasilkan lumayan bisa membuat badan ini bergoyang, begitu pula saat gw melihat penonton-penonton lainnya. Ada beberapa penonton bule yang turut bergoyang dan menyaksikan kolaborasi ini. 


Rama Satria dan DJ Halim Ardie

Setelah penampilan Rama Satria dan DJ Halim Ardie, penampil selanjutnya adalah para legenda orkes melayu negeri ini, yaitu OM PMR (Orkes Melayu Pancaran Sinar Petromaks). Tampil berenam dengan gaya uniknya masing-masing, OM PMR membuka aksi panggung mereka dengan mengajak penonton menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Gw dan istri kembali mengambil posisi paling depan dekat pagar barikade. Memulai dengan lagu Malam Jumat Kliwon dan Yang Hujan Turun Lagi, OM PMR membuat pecah penonton malam itu. Para penonton bergoyang...bernyanyi bersama.. Banyak yang sampe naik-naik ke punggung temannya sambil bergoyang. Selanjutnya lagu-lagu seperti Tato atau Panu, Individu Merdeka, Terlalu Lama Sendiri, Istilah Cinta, Bintangku Bintangmu membuat penonton semakin liar. OM PMR pun akhirnya menyudahi penampilan mereka dengan lagu Judul-Judulan. Setelah itu mereka pun melakukan standing ovation dan penonton pun berteriak "lagi...lagi.." agar OM PMR menambah setlist lagi. Well, menurut gw inilah show paling pecah dari OM PMR yang pernah gw tonton. 


OM PMR

Akhirnya tibalah saatnya di penghujung acara. NAIF tampil sebagai closing. Penonton masih ramai menunggu aksi dari NAIF. Satu persatu personel NAIF naik ke atas panggung, dimulai dari Pepeng, Emil, Jarwo dan David. NAIF memulai penampilan mereka dengan lagu pembuka yang, baru kali ini gw liat mereka membawakan lagu tersebut sebagai pembuka, yaitu Pujaan Hati. Dilanjutkan dengan Jikalau dan Piknik 72 yang membuat koor massal penonton. Selanjutnya hits-hits seperti Karena Kamu Cuma Satu, Di Mana Aku Di Sini, Buta Hati, Benci Untuk Mencinta, Curi-Curi Pandang, Air dan Api, lalu diakhiri dengan Aku Rela dibawakan dengan sempurna oleh NAIF. Ada satu kejadian yang menarik perhatian gw, saat lagu Benci Untuk Mencinta dibawakan, ada satu orang memakai kaos Crew - Kepencet Music Festival tampak sedang mengambil video aksi panggung NAIF. Gw tadinya gak peduli. Tapi pas Begenk, salah satu Begundals Naif mengampiri dia dan membisikkan sesuatu, sepertinya Begenk menyuruh orang itu untuk menghentikan perbuatannya, gw mencium ada sesuatu yang gak beres. Tampak beberapa Security menghampiri orang itu dan menyuruh dia berhenti. Tapi si oknum itu sepertinya tak menggubris. Gw pun memperhatikan, di depan panggung sebenernya sudah steril, bahkan fotografer pun mengambil foto dari sisi pinggir panggung. Tapi oknum itu sepertinya tambeng. Kembali Begenk menghampiri dia dan lagi-lagi gak digubris sama itu oknum. Sampai akhirnya salah satu panitia cewe menghampiri dia dan sepertinya menyuruh dia berhenti dan keluar dari area steril depan panggung, itu oknum masih tak mau bergeming, lalu dua orang security sepertinya sudah hilang kesabaran dan menggeret oknum itu kesamping. Si oknum sempat bersitegang dengan para Security yang menggeretnya. Gw menyaksikan itu semua karena posisi gw kan tepat di depan pagar barikade. Setelah itu oknum digeret ke sisi pinggir, gw sempat menduga wah kayaknya digebugin tuh oknum. Karena kejadian selanjutnya udah gak terpantau dari pandangan gw, gw pun gak ambil pusing. Kembali gw fokus menyaksikan penampilan NAIF. Setelah NAIF mengakhiri lagu Aku Rela, David pun turun dari panggung dan menyalami satu persatu penonton yang ada di depan panggung. Tampak Security sepertinya kurang nyaman dengan aksi David itu, mungkin mereka sempat bilang ke David agar kembali naik ke panggung. Tapi dari gesture David sepertinya David juga kurang nyaman dengan himbauan itu, dan sepertinya bilang ke para Security agar mereka santai aja, David pun kembali menyalami para penonton. Sampai di depan gw, David pun mengenali gw saat bersalaman dengannya. "Eh elo.." Ujar David sambil tertawa. Gw pun juga tertawa. Istri gw pun juga menyalami David. Hingga akhirnya David pun menghilang ke backstage.

Gw dan istri saat menunggu NAIF tampil

NAIF

Setelah acara usai, di sisi kiri panggung gw sempat ketemu temen-temen NFC yaitu Idrus, Iyunk dan Awal. Oh iya tadi pas NAIF on stage gw juga sempat ketemu Ipung, salah satu dedengkot NFC yang sekarang menjadi salah satu fotografer NAIF. Sempat gw dan istri difoto oleh Ipung dari depan panggung. Gw nanya ke Iyunk gimana tuh tadi si oknum yang digeret oleh Security. Ya katanya si oknum itu masih ngeyel tuh di pinggir. Tapi gak digebugin sih. Tapi terus digeret sampe ke backstage, gak boleh ada di area panggung lagi. Haha.. 



Bersama KawaNAIF : Idrus, Iyunk, Awal

Yah begitulah pengalaman gw nge-gigs di KMF. Overall sih acaranya asik-asik aja. Line-up pengisi acara yang dihadirkan oke-oke. Dari berbagai genre musik dari rap, rock, pop, blues, orkes melayu, techno, dihadirkan di acara KMF ini. Promo diskon 50% untuk pengguna Sakuku BCA-nya oke. Diskon khusus untuk makanan dan minuman di beberapa booth bagi pengguna Debit dan Sakuku BCA-nya oke. Soundnya kurang oke. Dari sejak gw nonton pas Fourtwnty soundnya kresek-kresek dan kurang nyaring. Namun tata lampunya oke. Istri gw dapat beberapa foto bagus berkat bantuan tata lampu yang ok. Evenpun gw yang pake kamera hp pun merasa terbantu saat mengambil beberapa foto dari para penampil. Securitynya agak berlebihan ya. Tapi bagus juga sih, mereka tegas melarang penonton membawa masuk rokok ke ruangan indoor. Jadinya di dalam area indoor yang ber-AC tersebut tidak ada yang merokok. Padahal salah satu sponsor acara adalah dari rokok. Soalnya di beberapa event yang pernah gw hadiri walaupun areanya indoor dan ber-AC, namun karena sponsor utamanya rokok, jadi dibolehin aja gitu beberapa penonton yang merokok di ruangan ber-AC. Mungkin bisa lebih pecah kalo ada MC tapi harus yang gokil MC-nya.

Ya semoga tahun depan bisa ada lagi nih acara Kepencet Music Festival. Dengan menghadirkan line-up yang berkualitas lagi tentunya. Konsep acaranya sih udah ok. Salah satu gigs asoy yang pernah gw datengin, hehe.. Sukses, Kepencet Music Festival!







Friday, June 9, 2017

Seminar Nasional "Dinamika Hukum dalam Jeratan Politik dan Bisnis" di Kampus BINUS Anggrek



Dalam rangka Dies Natalis yang ke-6, pada hari Senin, tanggal 5 Juni 2017 yang lalu, Business Law Universitas Bina Nusantara (BINUS) mengadakan acara Seminar Nasional bertajuk "Dinamika Hukum dalam Jeratan Politik dan Bisnis", dengan narasumber Bapak Antasari Azhar (eks Ketua KPK) dan Om Maman Suherman (Penulis & Notulen Indonesian Lawak Club). 

Waktu pertama mendengar kabar ada acara ini dari istri saya, yang juga teman dari Om Maman, saya langsung tertarik untuk menghadirinya. Disamping karena Kampus BINUS yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami, narasumber yang dihadirkan pun menarik minat saya untuk menghadirinya. Sayang pada hari H istri saya tidak bisa ikutan karena waktu diadakannya seminar ini bertepatan dengan jam kantor sehingga istri saya tidak bisa meninggalkan kantor. Alhasil sayapun datang sendirian ke tempat acara.

Acaranya sendiri berlangsung di ruang Exhibiton Hall Lantai 3 di Kampus BINUS Anggrek. Setelah beberapa kali tanya sana sini, akhirnya sayapun sampai di ruangan yang dimaksud. Terlihat antrian sudah ada begitu saya datang. Saya langsung menghampiri meja panitia pendaftaran dan menanyakan apakah saya bisa ikutan acara seminar ini, mengingat saya belum mendaftar sebelumnya. Kata Panitia bisa, akhirnya sayapun  ikut mengantri dan membayar 50 ribu Rupiah lalu masuk ke dalam venue.

Di e-flyer tercantum acara mulai dari jam 3 siang. Saya mengambil posisi duduk di deretan tengah belakang. Ruangan masih belum terisi semua tempat duduknya. Tak berapa lama kemudian satu persatu kursi mulai terisi, dan MC pun memanggil para narasumber untuk memasuki tempat acara. Terlihat Bapak Antasari Azhar dan Om Maman berjalan melewati sebelah kursi yang saya duduki. Om Maman sempat melihat dan mengenali saya dan kamipun berjabat tangan sambil sedikit bertegur sapa. Setelah para narasumber duduk di depan, acara seminar pun dimulai.

Om Maman Suherman bercerita tentang pengalamannya saat di bangku kuliah dulu

Sesi pertama dimulai oleh Om Maman Suherman. Beliau banyak menceritakan pengalamannya dulu saat magang dan duduk di bangku kuliah Kriminologi FISIP UI. Sempat menjadi asisten dr. Mun'im Idries menjadi ahli forensik dalam beberapa kasus kematian, membuatnya mengetahui banyak kasus-kasus pembunuhan yang terjadi yang sampai sekarang belum jelas titik terangnya.
Banyak kisah-kisah menarik dari beliau berdasarkan pengalamannya. Diantaranya mengenai sindikat pelacuran untuk lesbian, yang sudah ada di ibukota sekitar tahun 1987. Lalu pengalaman dia ikut menghadiri pesta orgy di suatu hotel di Puncak. Lalu kisahnya mengenai seorang wanita yang sudah dituangkannya dalam buku-bukunya yang berjudul "Re:" dan "peREmpuan".  

Bapak Antasari Azhar dan Maman Suherman. Sumber foto : Facebook Maman Suherman

Setelah sesi Om Maman, tiba giliran sesi dari Bapak Antasari Azhar. Ketika mengetahui bahwa beliau akan hadir sebagai narasumber, saya tertarik dan berharap bahwa beliau akan banyak bercerita tentang kasus yang dialaminya. Namun sebelum beliau memulai pembicaraannya, beliau bertanya kepada panitia, apakah selain mahasiswa dan dosen BINUS adakah orang luar yang hadir di ruangan tersebut? Karena kalau ada orang luar yang juga hadir, beliau hanya akan menyampaikan mengenai kasusnya hanya luar-luarnya saja, tidak begitu sampai mendalam, ujarnya sambil setengah bergurau. Para peserta pun tertawa mendengar ucapan beliau. Karena menurut beliau, beberapa bulan lalu dia sempat menjadi pembicara juga di suatu kampus di Semarang. Di sana beliau dengan gamblang menceritakan mengenai kasus yang menimpanya. Pada bulan depannya, saat beliau sedang duduk-duduk santai di rumah, ada orang yang bertamu ke rumah beliau, dan setelah berbincang-bincang orang itu mengatakan kepada beliau bahwa jangan terlalu bercerita secara gamblang mengenai kasus yang dialaminya. Orang itu ternyata hadir pada saat itu. Nah karena itulah makanya Pak Antasari menanyakan hal tersebut di atas tadi kepada audience yang hadir.

Namun tetap sih, pada saat berbicara kepada audience beliau sedikit banyak menceritakan tentang kasus yang dialaminya tersebut. Misalnya tentang bagaimana kejanggalan yang ditemui saat di persidangan, mengenai peluru yang apakah bisa berbelok sendiri, mengenai jaksa yang menuntutnya seumur hidup notabene adalah bekas anak buahnya di Kejagung dulu, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kasusnya tersebut.
Mengenai hukum di Indonesia, Pak Antasari mengambil sebuah quote yang beliau sendiri juga lupa siapa yang menyampaikannya, quote itu kurang lebih seperti ini : "Beri saya lima penegak hukum yang jujur dan berintegritas tinggi, niscaya saya bisa bereskan hukum di negeri ini walau hukum di negeri ini carut marut".
Jadi menurut beliau, berdasarkan quote itu, sebenarnya yang perlu dibenahi untuk membereskan masalah hukum di negeri ini adalah SDM nya, bukan produk hukumnya. Karena menurut beliau penegakan hukum di negeri ini sudah terjadi, yang belum adalah penegakan keadilan.

Penyerahan plakat dari panitia kepada narasumber

Foto bersama antara para dosen dengan narasumber

Ketika ditanya oleh moderator, apakah ada keinginan dari Pak Antasari untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dalam kasusnya tersebut, Pak Antasari berujar, memang pada saat awal-awal beliau bebas setelah diberi grasi oleh Presiden ada keinginan untuk itu. Namun setelah beberapa waktu, beliau berpikir untuk legowo saja mengenai apa yang sudah terjadi, dan lebih fokus untuk menatap ke masa depan.

Di akhir acara, Om Maman sempat merekomendasikan dua buah buku karangan mentor beliau dulu, yaitu dr. Abdul Mun'im Idries, Sp.F. Dua buah buku berjudul Indonesia X-Files dan Indonesia X-Files 2. Kedua buku tersebut beliau bawa pada saat seminar kemarin dan memperlihatkannya kepada peserta. Buku-buku tersebut berisikan tentang kasus-kasus kematian di Indonesia yang sampai saat ini menjadi misteri siapa dalangnya, berdasarkan pengalaman sang penulis dr. Mun'im Idries sebagai dokter ahli forensik yang menangani kasus-kasus tersebut. Setelah saya cerita ke isteri saya, ternyata isteri punya buku yang pertamanya, horee.. tinggal nyari buku yang kedua :D


Buku Indonesia X-Files yang direkomendasikan Om Maman

Akhirnya sampai di penghujung acara. Setelah pemberian plakat kepada para narasumber, lalu sesi foto bersama antara para dosen dengan narasumber. Setelah itu peserta yang mayoritas adalah mahasiswa-mahasiswi BINUS saling berebutan untuk berfoto bersama baik dengan Pak Antasari maupun dengan Om Maman. Saya yang rencananya ingin menemui Om Maman mengurungkan niat karena ramainya peserta yang ingin berfoto, hingga akhirnya Om Maman pun pergi duluan meninggalkan tempat acara.

Setelah itu karena panitia juga menyiapkan menu buka puasa untuk peserta, saya pun menunggu hingga beduh maghrib tiba. Setelah memakan ta'jil bubur sumsum, buah semangka, dan meminum es buah dan segelas air mineral, saya pun beranjak pulang walau sebenarnya panitia juga menyiapkan menu makan berat. Namun karena saya sendirian (andai isteri saya bisa ikutan saat itu) saya merasa canggung dan akhirnya memutuskan untuk makan berat di rumah saja.

Anyway sukses acaranya untuk anak-anak BINUS Business Law. Tema seminarnya menarik. Banyak cerita dari para narasumber yang saya dapatkan pada seminar ini. Kesimpulannya memang, banyak kasus-kasus X-Files di negeri ini yang masih belum terungkap. Semoga lambat laun, satu persatu kebenaran akan terungkap.














Sunday, June 4, 2017

Pamitnya Sang Pangeran Roma, Francesco Totti


Pekan terakhir Serie-A Italia musim 2016-2017 pada tanggal 28 Mei lalu, menimbulkan rasa haru-biru bagi gw. Bukan, bukan karena tim favorit gw di Serie A, yaitu Inter Milan, bercokol di posisi 7 klasemen akhir sehingga tidak bisa mengikuti kejuaraan-kejuaraan antar klub Eropa (Liga Champions & Liga Eropa) musim depan, hehe..  Tapi karena...adanya momen perpisahan dari Il Capitano AS Roma, Francesco Totti.

Walau bukanlah pendukung AS Roma, tapi sebagai seorang penggemar sepakbola, melihat video perpisahan Totti dengan klub yang sudah dibelanya selama 25 tahun sungguh mengharukan buat gw. Berulang kali gw tonton video tersebut, berulang kali juga air mata ini menetes di pipi. Terutama saat Totti memeluk kedua anaknya lalu istrinya, dan menangis bersama. Bahkan saat momen perpisahan Sir Alex Ferguson (ex-pelatih Manchester United, klub favorit gw di Liga Inggris) pada tahun 2013 lalu pun gw tidak begitu sesedih ini.


Mengenai Totti sendiri buat gw, dia adalah satu dari sedikit pemain Italia yg gw respect. Tidak terlalu mengidolakannya, namun gw suka gaya permainan dia, cara dia menjebol gawang lawan serta umpan-umpannya kepada rekan-rekan setimnya. 25 tahun selalu berada di klub yang sama sejak dia awal berkarir hingga sekarang memutuskan pensiun, tentu dibutuhkan kesetiaan yang sangat luar biasa. Dia bisa saja pindah ke klub lain, dengan gaji yang jauh lebih tinggi, dengan peluang untuk mengangkat trophy lebih sering, tapi itu semua tidak membuat dia berpindah ke lain hati. Terbukti, sekarang dia mendapatkan timbal balik dari para pendukungnya, rasa hormat, cinta dan kehilangan yang luar biasa.

Terima kasih Totti, sudah ikut mewarnai kehidupan sepak bola gw sejak tahun 90-an. Dirimu adalah salah satu ikon dalam dunia persepakbolaan. Respect, legend!










Friday, May 12, 2017

12 Mei 1998, Kami Tidak Akan Pernah Lupa!



Hari ini 19 tahun yg lalu... gw coba menceritakan kembali pengalaman gw pada hari itu..

Pagi itu parkiran kampus udah penuh oleh mahasiswa yg berorasi. Gw ada midtest jam 10. Oh iya, gw baru semester 4 pada waktu itu di Fakultas Hukum Usakti.
Kelar midtest gw gabung sama kawan-kawan dan mahasiswa lainnya di jungle (sebutan kami untuk parkiran kampus). Suasana masih damai.
Beberapa dosen juga terlihat berorasi di panggung. Menjelang siang kami berusaha keluar kampus untuk menuju gedung DPR.
Kami tertahan di depan eks-Kantor Walikota Jak-Bar. Di situ kembali orasi dilakukan. Gw agak di barisan depan gabung sama senior-senior gw.
Di depan udah terlihat beberapa pasukan aparat. Pasukan bermotor juga sudah siap. Bahkan panser pun ada. Gak mungkin kami lanjut ke DPR.

Menjelang sore hujan pun turun. Tapi kami tetap bertahan disitu. Aparat pun masih menghadang kami di posisi mereka masing-masing.
Setelah hujan reda tampak senior gw Wanda Hamidah dan beberapa mahasiswi membagikan bunga mawar kepada aparat yang berjaga di depan kami.
Sekitar pukul 5 sore kami pun sudah duduk-duduk di jalanan. Tidak ada orasi lagi. Mahasiswa udah bersiap balik ke kampus. Tapi..
Gw liat sendiri ada 1 orang (belakangan diketahui namanya Mashud Lang, kalo gak salah) membentak2 kami yang duduk untuk segera bubar.
Beberapa mahasiswa yang dibentak tampak tak suka, lalu terjadilah adu mulut dengan orang itu, yg kemudian dikejar dan lari ke arah aparat.
Itulah pemicunya, aparat yang tadinya sudah mundur kembali maju ke arah kami dan menyerang kami dengan membabi buta.
Gw yang berada agak depan barisan mikir gak mungkin gw ke kampus, gerbang cuma satu, yang mau masuk ribuan mahasiswa, keburu dihajar gw.
Akhirnya gw dan beberapa mahasiswa nyebrang masuk tol dalam kota menuju Citraland. Ternyata disana juga ada rekan-rekan Untar & Ukrida.
"Trisakti, Untar, Ukrida, ayo gabung masuk ke Untar". Begitu seru satu mahasiswa dan kamipun masuk ke Untar yang di samping Citraland.

Di kampus Untar kamipun ditembaki aparat dari luar. Tampak seorang mahasiswa terkena peluru karet di dadanya. Kamipun membalas.
Ada yang menyiapkan amunisi berupa bom molotov. Yang lainnya membalas dengan batu dan botol. Ada kabar sudah ada korban di Trisakti.
Gw mikir, gw lebih baik "perang" bareng temen-teman gw lah, akhirnya gw bisa keluar dari Untar nyebrang lagi ke Trisakti.
Tapi sampai di kolong jembatan fly over gw terhenti. Ga mungkin gw bisa masuk ke kampus. Aparat udah dimana-mana. Suasana juga udah chaos.
Akhirnya gw balik lagi ke arah Untar. Tapi gak mungkin juga untuk masuk lagi. Suasana juga sudah mulai mencair. Akhirnya gw pun pulang ke rumah naik angkot.

Kini 19 tahun sudah berlalu.. Masih belum jelas siapa dalangnya.. Mereka yang diadili bukanlah pelaku sebenarnya..
Para pengecut itu masih bersembunyi di antara kita. Tapi gw yakin suatu waktu nanti kebenaran akan terungkap.
Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Heri Hartanto & Hendriawan Sie mereka tidak gugur sia-sia. Kami lanjutkan perjuanganmu kawan.


Friday, November 18, 2016

Anti Klimaks Konser Morrissey

OMG OMG, sudah sebulan lebih lewat dari konser keduanya Morrissey di Jakarta, dan gw belum sempat menulis tentang konser tersebut.. I'm sorry Moz.
Sejak mengetahui kabar bahwa Morrissey akan kembali tampil di Jakarta untuk kedua kalinya (setelah penampilan pertamanya tahun 2012 lalu, di mana gw waktu itu menonton juga) tentu saja gw merasa gembira dan bahagia. Morrissey adalah salah satu musisi idola gw sejak mengenal lagu-lagunya dari tahun 1994-1995 lalu. Apalagi setelah mengenal sosoknya lebih jauh lagi, tentang personalitynya, tentang pola pikirnya, sejak itu gw menobatkan eks vokalis The Smiths ini sebagai salah satu idola gw di bidang musik. Konser dia di Jakarta tahun 2012 lalu juga merupakan salah satu konser terbaik yang pernah gw tonton. Apa sih indikasi konser itu bagus dan menarik menurut gw? Yaitu di mana gw bisa lepas ber-sing along, bergoyang berdansa ber-moshing & stage diving dan sebagainya pada konser itu. Tidak selalu dengan panggung dan tata suara yang wah megah, tak perlu di venue yang eksklusif, yang penting gw bisa merasakan euforia berada dalam kerumunan penonton lainnya. Nah itulah yang gw rasakan pada konser Moz tahun 2012 lalu. Lalu bagaimanakah dengan konser Moz pada 12 Oktober lalu?
Konser kedua Moz di Jakarta kali ini diadakan di GBK Sports Complex Senayan (ex Golf Driving Range Senayan). Sebuah venue yang setau gw baru kali ini dijadikan tempat konser yang diadakan di Jakarta. Outdoor? Ya jelas. Masih sekitaran Senayan juga sih di mana pada 2012 lalu Moz tampil di Tennis Indoor Senayan. Karena Oktober lalu Jakarta sudah mulai memasuki musim penghujan, gw pun sebagai seorang concert goer sudah mengantisipasi bahwa venue pasti akan becek, jadi dari rumah gw udah langsung memakai celana pendek 3/4 gw dan sepatu Converse yang udah jarang gw pakai. Benar, pada akhirnya setelah konser gw gak perlu lagi pusing akan kotornya jeans dan sepatu yang biasa gw pakai, ha.
Gw tiba di venue sekitar jam 5 sore. Sudah ramai para penggemar Moz di sana. Terdengar check sound dari panggung lagu-lagu Moz dimainkan. Ada Suedehead, Let Me Kiss You, Ouija Board dan beberapa lagu lainnya. Gw langsung memastikan bahwa lagu-lagu tersebut akan dimainkan juga nanti pada saat konser. Setelah ber-swafoto di depan gerbang masuk venue, gw pun masuk ke dalam menukarkan tiket gw di Ticket Box, lalu mengantri. Wah di dalam antrian sudah agak lumayan panjang. Padahal open gate masih sekitar satu setengah jam lagi. Gw pun akhirnya mengantri di salah satu barisan. Tapi setelah beberapa saat kok gw merasa aneh. Di barisan gw kenapa cuman sedikit ya yang antri, sedangkan dua barisan di samping gw lebih panjang. Gw pun bertanya pada orang di depan gw, apakah barisan ini untuk pembeli tiket VIP? Tapi nggak kok, dia juga tiket Reguler sama kayak gw. Jadi yaudahlah gw tetap mengantri di situ. Toh kalo memang antrian kami salah petugas di depan pasti sudah memberitahu kami untuk antri pada barisan yang dua lagi.

swafoto sebelum memasuki venue

Tapi gw kembali berpikir, gw kan pemegang tiket Fast Track. Gw beli tiket ini pada saat acara rutin bulanan Selecta Pop edisi The Cure vs Morrissey sebulan sebelumnya. Sebuah acara musik rutin bulanan yang diadakan oleh komunitas GOB (Grup Orang Bener) di Facebook. Nah di acara tersebut hadir pula perwakilan dari pihak promotor yaitu kiosPLAY untuk sembari berjualan tiket di sana. Benefit membeli tiket di acara itu yaitu mendapatkan tiket Fast Track, jadi pemegang tiket itu nantinya bisa langsung masuk tanpa harus mengantri lagi. Lalu gw berpikir, untuk apa gw ngantri di sini. Sebelum mengantri tadi sih gw udah sempet nanya sama salah satu petugas di depan gate, dimanakah pemegang tiket Fast Track harus mengantri. Dia jawab ke gw bahwa gw tetap ikut antrian yang ada. Loh...gak jelas.. Maka dari itulah gw mengantri di antrian gw sekarang. Tapi naluri gw mengatakan bahwa gw seharusnya tidak berada di sini. Gw tinggalkan antrian gw dan kembali maju ke depan gate. Gw kembali menanyakan ke petugas yang lain bahwa gw pemegang tiket Fast Track apakah gw bisa langsung masuk? Kebetulan di depan gw ada beberapa orang yang diperbolehkan masuk, beberapa diantaranya bule-bule yang udah gw perhatikan dari tadi sih.. Kata salah satu petugas gate, setelah mengetahui gw pemegang tiket Fast Track, gw diperbolehkan masuk tuh.. Gw disuruh ikut masuk aja bersama beberapa orang tadi, eh pas gw udah mau masuk, ada salah satu petugas di arah belakang gw yang nanya, gw ini siapa. Loh, ternyata orang-orang yang udah masuk duluan tadi adalah para Guest List. Nah miskom lagi kan antara petugas-petugas itu. Akhirnya gw gak boleh jadi masuk duluan. Gw ditanya sama petugas yang tadi berada di belakang gw, "tiket lo beli di mana?". Gw bilang, "Gw beli di JK7 Bar Kemang bulan lalu, gw beli tiket Fast Track". Lalu dia bilang gw disuruh nunggu dulu sampe ada 30 orang pemegang tiket Fast Track baru gw bisa masuk. Nah nunggulah gw di deket gate, ada dua orang penggemar Moz lainnya yang juga ternyata pemegang tiket Fast Track dan beli di acara yang di JK7 Bar itu juga. Lalu ngobrol-ngobrolah kami.

Gw liat antrian penoton sudah makin mengular memanjang ke belakang, sebentar lagi sudah jam 18.30 nih, jadwalnya open gate. Gw berpikir dan bertanya kepada dua orang teman baru gw itu, "ini kita nungguin sampe 30 orang dulu baru boleh masuk? lalu kalo jam 18.30 belom ada 30 orang, lalu orang-orang yang ngantri ini udah boleh masuk duluan, lalu apa untungnya kita sebagai pemegang tiket Fast Track?!", ujar gw kepada mereka. Mereka pun sadar, 'oh iya ya.. nah itu tuh.. gak jelas nih.." kata mereka. Iya kan, nungguin 30 orang pemegang tiket Fast Track mau sampe kapan, ada yang masih di jalan mungkin dan belum sampai ke venue. Lalu kalo jam 18.30 gate masih belum dibuka, bisa ngamuk ini ribuan orang yang udah pada ngantri panjang begini. Agak kesel juga sih gw dan temen-temen baru gw itu. Namun beberapa saat kemudian, terdengar suara dari walkie talkie salah satu petugas, bahwa kami tiga orang ini diperbolehkan masuk duluan. Nah dari tadi kek.. bingung kan lo, mau nungguin 30 orang pemegang tiket Fast Track apa masukin penonton yang ngantri duluan. Kenapa gak dari tadi aje masukin kami ahelah.
Jadi masuklah kami bertiga. Melewati security check seperti pada konser-konser umumnya. Parfum gw sempet akan disita oleh petugas yang meriksa gw. Gw sih udah pasrah kalo parfum gw mereka ambil. Tapi salah satu petugas lainnya akhinya bilang gpp deh bawa aja parfum gw. Belakangan gw baca di grup Facebook Morrissey Fans Indo ada seorang penonton cewek yang baru aja siang tadi beli parfum dan parfumnya diambil aja gitu loh, gak dibalikin pas akhir konser. Cewek itu menyampaikan unek-uneknya kepada promotor di grup FB itu, kenapa parfumnya diambil. Intinya dia gak rela parfumnya diambil. Sampe disumpahin itu orang yang ngambil parfumnya. Itu baru satu diantara banyak unek-unek dari para penonton yang kecewa kepada promotor. Nanti gw ceritain lebih lanjut.
Akhirnya, gw sudah di dalam venue. Masih sepii.. Gw bisa jalan-jalan dulu ngeliat booth-booth yang ada. Namun sayangnya gak gw temuin satu pun booth makanan dan minuman yang ada. Padahal rencananya gw mau isi perut dulu sebelum konser dimulai. Di rundown konser dimulai jam 8. Gw masuk masih jam 6 lewat. Konser selesai bisa jam 10an. Gw gak mau nyanyi nyanyi joget joget dalam keadaan perut kosong. Tapi apa mau dikata, tak ada satupun booth penjual makanan ada di situ, hiks hiks.. Ntahlah, mungkin ini salah satu permintaan dari Morrissey. Ah tapi gak juga ah, waktu konser tahun 2012 lalu di Tennis Indoor Senayan banyak kok booth penjual makanan dam minuman non daging (seperti kita tahu, Morrissey adalah seorang Animal Activist, dia menentang daging hewan dijadikan makanan). Nah berkaca dari konser tahun 2012 lalu, itu buktinya boleh ada penjual makanan. Gak apa-apa yang dijual adalah makanan vegetarian, yang penting kami bisa makan. Nah gak tau deh sekarang ini apa pertimbangannya kok gak ada booth penjual makanan dan minuman.
Lalu gw dan teman-teman baru gw tadi saling bergantian minta tolong difotoin di photo booth yang disediakan promotor. Mumpung masih sepi. Ntar kalo udah rame udah susah lagi foto-foto, pikir kami. Akhirnya setelah beberapa saat bernarsis-narsisan, kami pun berpisah. Mereka masuk ke pintu masuk VIP (karena mereka beli tiket yang VIP), dan gw sebagai pemegang tiket Reguler masuk ke pintu masuk Reguler. Akhirnya masuklah gw ke area penonton Reguler. Masih sepii.. Gw langsung ambil posisi di pojok depan barikade/pagar pembatas antara kelas Reguler dan VIP. dari jauh gw liat beberapa orang Guest List yang sore tadi sudah masuk duluan ada di depan panggung kelas VIP. Di kelas Reguler sepertinya baru gw doang yang masuk. Gw pun mengabadikan momen tersebut dengan mengambil video suasana venue saat itu, lalu gw posting di akun Twitter gw.

bersama Moz di photobooth

Panggung masih terlihat gelap. Terdengar lagu seriosa dari ntah siapa yang menyanyikan sedang diputar sebagai pengiring momen menunggu dimulainya konser. Cukup lama gw berdiri sendiri di situ, menikmati momen-momen hening ini sebelum That Charming Man naik ke panggung. Tak berapa lama kemudian, satu persatu penonton mulai ramai berdatangan masuk, sampai akhirnya di kelas Reguler gw lihat ke belakang sudah penuh oleh lautan manusia. Bagaimana di kelas VIP? Masih terlihat kosong! Jujur sedih gw ngeliatnya. Gw membayangkan gimana perasaan Moz saat melihat kelas VIP yang melompong begitu. Beberapa tahun lalu setelah konser pertamanya di Jakarta, di situs resmi Moz yang dikelola penggemar-penggemar kepercayaannya, www.true-to-you.net, dalam satu sesi wawancara Moz ditanyakan sampai saat ini dimanakah konser dengan penonton yang sangat berkesan untuk dia. Moz menjawab, Jakarta. Kata Moz, semua orang mengira bahwa New York-lah audience yang paling berkesan untuknya. Itu salah, ujar Moz. Jakarta mendapat tempat terbaik di hati seorang Morrissey, dan dia sangat mendambakan kapan bisa kembali lagi ke Jakarta. Setelah di konser kedua ini, apakah Jakarta masih mendapat tempat terbaik di hatinya?. Kita lihat saja nanti.

venue terlihat menarik dikelilingi gedung-gedung perkantoran Jl. Sudirman
Harusnya promotor jangan membatasi kembali pagar di kelas VIP dan Reguler. Maksud gw, it's ok lah kalo antara penonton Reguler dan VIP dibatasi oleh barikade. Tapi di masing-masing kelas tersebut tidak usah dipisah lagi menjadi dua bagian. Akibatnya jadi telihat melompong. Harusnya promotor mencontoh saat konser Weezer di Lapangan D Senayan tahun 2013 lalu. Antara penonton VIP dan Reguler memang dibatasi, namun kami tidak dipecah dua lagi si masing-masing kelas tersebut. Jadi konser Weezer itu sendiri terlihat sangaat ramai oleh penonton, tidak ada satu celahpun yang kosong. Itulah menurut gw kesalahan promotor Moz tahun ini. Mereka tidak bisa memprediksi. Gw udah duga dengan tiket VIP seharga 1,5 juta pasti tidak akan banyak orang yang membeli tiket VIP tersebut. Tapi hal itu bisa disiasati dengan 'menumpuk' para penonton menjadi satu kesatuan. Jarak dari penonton ke panggung pun jadi sangat jauh. Beda pada tahun 2012 lalu, di mana kami seakan tak ada jarak dengan Moz. Para penggemar Moz pun tau bahwa Moz sebenarnya senang kalau ada Moz-Hugger yang naik ke atas panggung. Terbukti jarak yang dekat antara penonton dengan Moz di tahun 2012 lalu membuat 3 orang penonton berhasil naik ke panggung dan memeluk Moz. Itulah salah satu yang membuat konser tahun 2012 lalu terasa sangat menyenangkan. Lalu bagaimana dengan tahun ini. Adakah Moz-Hugger yang bisa naik ke atas panggung? Sama sekali tidak ada.
Well, kembali ke situasi di venue. Seperti tahun 2012 lalu sembari menunggu konser dimulai, penonton disuguhi beberapa video klip dan cuplikan-cuplikan adegan dari beberapa film. Tercatat ada pemutaran video klip dari Ramones, Sex Pistols, Alice Cooper dan beberapa lainnya. Ntah kenapa, menurut gw video-video yang ditampilkan pada sesi ini masih lebih menarik yang ditampilkan pada tahun 2012 lalu dan gw lebih bisa menikmatinya. Ntah apakah hanya gw yang merasakan hal ini.
Nah setelah kami disuguhi video-video tersebut, inilah saat yang ditunggu-tunggu. Morrissey bersama band pengiringnya naik ke atas panggung. Penonton pun bersorak. Suedehead, Alma Matters dan Everyday is Like Sunday menjadi tiga lagu pertama yang dibawakan dan menurut gw itu pembuka konser yang sangat menyenangkan. Koor massal tak terelakkan, apalagi saat Alma Matters dibawakan. Morrissey pun sempat berujar "very nice" saat mendengar penonton bernyanyi bersama. Selanjutnya lagu-lagu yang sudah gw perkirakan akan dibawakan saat mendengar check sound sore tadi seperti Ouija Board dan Let Me Kiss You benar ternyata dibawakan juga. Sebelum memulai lagu World Peace is None Of Your Business, Moz sempat bertanya kepada penonton, "Do you like Donald Trump?". Kontan serentak pennton berteriak "Noo...". Moz pun berujar, "oh why.. i thought because world peace is none of your business.."

crowd yang antusias menyaksikan Moz tampil

Morrissey juga seorang penggemar The Ramones, khususnya sang gitaris Johnny Ramone. Mungkin itulah mengapa Moz pada turnya setahun belakangan ini kerap membawakan lagu Judy is a Punk milik The Ramones. Tak terkecuali saat di Jakarta kemarin, dan gw yang juga seorang penggemar Ramones pun sumringah saat lagu tersebut dibawakan oleh Moz. Salah satu lagu yang juga mampu membuat koor massal penonton yaitu First of The Gang to Die tak ketinggalan pula dibawakan secara semi akustik, terlihat dari Boz Boorer, sang gitaris yang sudah menemani Moz sejak awal karier solonya memainkan lagu itu menggunakan gitar akustik. Padahal menurut gw lagu tersebut terasa feelnya kalau dimainkan dengan distorsi gitar seperti di album. Ya but it's ok lah. Buktinya kami tetap ber-sing along kok. Namun ada hal yang mengganjal hati gw. Sering di pergantian beberapa lagu saat jeda, suasana terdengar senyap. Tidak ada gemuruh penonton yang berteriak-teriak atau membuat suasana gaduh lainnya. Sepi, adem ayem. Hanya sesekali ada penonton yang berteriak "Morrissey I love you.." dan dijawab oleh Moz dengan "I love you too.." dengan suara seeprti anak kecil. Atau sempat juga di kelas Reguler sebelah gw, ada beberapa penonton yang nge-chant "We love Morrissey, we do.. We love Morrissey, we do.. We love Morrissey, we do.. ooh Morrissey we love you.." dengan tunes seperti chant Manchester United (setiap penggemar United pasti tau gimana chant tersebut). Gw pun yang mendengar chant tersebut langsung ikut menyanyikan. Tapi ya hanya sebatas itu aja. Ntah itu terdengar oleh Moz atau tidak. Gw hanya mau membuat suasana lebih ramai. Lagi-lagi penyebabnya menurut gw adalah masalah pengaturan barikade penonton yang jauh dari Moz!. Oh we're sorry Moz.. andai kami bisa membuat suasana lebih meriah lagi.. 

Moz melempar kemejanya ke arah penonton setelah lagu Let Me Kiss You


Visual saat lagu World Peace is None of Your Business (?)

visual saat lagu Jack The Ripper (?)

visual saat lagu How soon is Now?
Namun ada hal yang menarik pada konser Moz tahun ini, yaitu visual yang terpampang pada setiap lagu dimainkan. Menurut gw visual yang ditampilan jauh lebih menarik dibandingkan tahun 2012 lalu. Baik itu gambar maupun video yang ditampilkan. Pada lagu Ganglord misalnya, visual yang ditampilkan adalah video tentang kekerasan yang dilakukan aparat keplisian pada penduduk sipil di berbagai momen. Pada lagu Jack The Ripper (kalo gak salah) visual yang ditampilkan adalah gambar foto pangeran William dan istrinya Kate Middleton dengan tulisan United King-Dumb memakai font bendera Union Jack. Lalu di lagu Meat is Murder visual yang ditampilkan adalah video tentang pembunuhan massal hewan-hewan di seluruh dunia. Di akhir video terpampang tulisan dengan bahasa Indonesia, "Apa alasanmu sekarang? Daging adalah pembunuhan." Lalu Moz pun bergegas ke balik panggung meninggalkan band pengiringnya menyelesaikan lagu Meat is Murder. Lalu setelah lagu selesai para band pengiringnya pun juga pergi meninggalkan panggung.

visual saat lagu Meat is Murder
Kami berharap akan ada encore. Tidak menyangka juga sih Meat is Murder akan dijadikan lagu terakhir sebelum encore. Namun, encore yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba.. Kami menunggu dengan perasaan gelisah selama sekitar 15 menit. Teriakan "We want more.. We want more.." berkumandang beberapa kali. Namun akhirnya yang muncul adalah crew yang membereskan gear band pengiring Moz. Lampu dinyalakan. Satu persatu alat musik dibereskan. Tinggal kami yang diam seakan tak percaya bahwa konser benar-benar telah usai. Tak ada salam perpisahan dari Morrissey. Sedih.. Kentang.. Namun kami harus menerima kenyataan pahit ini.
Ntah apa yang menjadi alasan Morrissey untuk menyelesaikan konser tanpa berpamitan pada kami. Gw melihat keesokan harinya di FB Morrissey Fan Club Indo, ada yang memposting setlist Moz malam itu yang didapat oleh Arian13 (vokalis Seringai). Di situ terlihat bahwa masih ada satu lagu lagi yang seharusnya dibawakan sebagai encore, yaitu What She Said milik The Smiths. Ntah kenapa lagu tersebut tidak jadi dibawakan. Apakah Morrissey sedih karena antusias crowd Jakarta tidak seperti tahun 2012 lalu? Atau seperti gosip yang beredar, apakah karena Morrissey melihat ada beberapa penonton yang merokok di dalam venue padahal harusnya rokok dilarang masuk ke dalam? Atau Morrissey sudah tidak kuat lagi melanjutkan konsernya karena sakit? Memang, gw lupa di lagu apa, Morrissey sempat berkata kepada penonton bahwa dia butuh inhaler. Lalu dia sempat terlihat jongkok menghirup udara dari inhaler tersebut. Dari posisi gw gak terlihat jelas sih dia saat kejadian itu, tapi dari yang gw baca di grup FB Moz Fans Indo memang benar bahwa Moz terlihat sedang 'mengambil napas'. Tapi vokal Moz malam itu terdengar sangat prima. Tak terdengar seperti orang yang sedang terkena kanker (ya, Moz divonis menderita kanker beberapa tahun lalu, dan dia sedang berjuang untuk melawan penyakitnya tersebut). Namun mungkin memang benar Moz saat itu sudah tidak kuat lagi melanjutkan konsernya. Karena seharusnya setelah Jakarta pada tanggal 12 Oktober, harusnya Moz bermain di Singapura pada tanggal 15 Oktober, namun show di Singapur diundur menjadi tanggal 17 Oktober karena alasan kesehatan Moz. Tersiar kabar pula bahwa Moz sempat dirawat di Jakarta beberapa hari untuk memulihkan kondisinya agar bisa tampil prima di Singapura.
Well, apapun itu penyebab Moz menyelesaikan konser tanpa pamit dan tanpa encore, gw pribadi menikmati konser tersebut. Dari segi setlist, lagu-lagu yang dibawakan jauh lebih menarik dibanding tahun 2012 lalu. Namun tak bisa dipungkiri, dari segi crowd dan venue masih jauh lebih menarik konser pada tahun 2012 lalu. Terlepas dari beberapa 'kesalahan' pihak promotor, gw mengucapkan terima kasih mereka sudah mau membawa Morrissey kembali ke Jakarta. Semoga Morrissey bisa kembali lagi ke Jakarta-Gw sebenernya berharap saat di Jakarta kemarin bisa berjumpa Moz dan meminta tanda tangan dia di buku biografinya yang gw miliki dan berfoto bersama, maybe someday, when he's back again-dan reuni bersama The Smiths! aha.. Semoga Morrissey bisa terus menghasilkan karya-karya yang bagus, dan terus fight melawan kankernya. Tetaplah menginspirasi kami, Moz. We're always adore you.

setlist Moz Jkt (courtesy of Arian13)